Setiap peternak ayam broiler tentu amat mendambakan lancarnya jalan usaha peternakannya, selain tidak adanyahambatan dan rintangan dalam melaksanakan pemeliharaan juga mulusnya jalur pemasaran yang menjadi kunci utama keberhasilan usahanya, peterna (terutama peternak kecil) tidak jarang harus berjuang keras untuk tetap dapat terus hidup dalam gelimangan tantangan dan hambatan.

Hal ini terjadi karena peternak ayam potong umumnya sangat tinggi ketergantungannya terhadap pihak lain, anak ayam umur sehari yang biasanya disebut bibit atau DOC, pakan komplit atau ransum lengkap, obat-obatan dan sarana produksi ternak (sapronak) yang lain harus didapatkan dari agen atau penyalur atau toko sapronak (Poultry Shop) Biasanya diantara kedua belah pihak telah terjalin kerjasama yang sangat baik terutama dalam hal hutang piutang yang dari satu sisi saling menguntungkan keduanya dan sisi lain menjepit ruang gerak peternak, demikian juga dalam hal pemasaran hasil pemeliharaannya, tidak jarang sangat tergantung pada tengkulak yang tentu saja tidak akan menjadi tengkulak kalau tidak menguntungkan.

Dalam dilema keterjepitan inilah peternak ayam pedaging harus dapat berbuat maksimal sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang optimal sesuai dengan jerih payahnya.

Kematian pada Minggu Pertama
Seperti disebutkan diatas peternak sangat bergantung kepada Poultry Shop misalnya akan pakan, bibit, obat-obatan dan sapronak lainnya. Hal ini berarti harga yang berlaku di pasaran tidak dapat diganggu gugat kecuali mungkin bagi peternak yang lebih besar atau langganan khusus ada sedikit discount tambahan. Demikian juga harga ayam hidup yang dihasilkan, sebagai pemilik tunggal sekalipun peternak tidak dapat menentukan harga sendiri. Harga pasaran yang berlaku. Bahkan terkadang peternak ayam pedaging dihadapkan pada dilema yang makin mencekam terjepit diantara dua pilihan, meneruskan memelihara dengan resiko menambah biaya pakan atau menjual dengan harga pasaran? Pada pilihan yang pertama tersembunyi juga macam kerugian yang siap menerkam. “Apakah akan ada pasarannya kalau ayam terus dipelihara? “karena hanya konsumen tertentu saja yang mau menerima ayam besar.

Oleh kerena itu agar dapat sedikit bernafas lega diantara himpitan kedua dilema yang menghimpit dan terkaman harimau kerugian yang selalu mengintai maka peternak ayam broiler harus dapat mengelola peternakannya semaksimal mungkin. Merencanakan usaha ternaknya dengan jeli, memilih strain ayam potong yang paling sesuai dengan kondisi alam sekitarnya, menggunakan pakan ternak yang berkualitas, melakukan pemeliharaan yang sebaik-baiknya dan tidak melupakan aspek pasar yang menguntungkan. Dan pada tulisan ini akan dibahas lebih lanjut tentang pemeliharaan khususnya mengenai perlakuan sederhana yang ternyata dapat mengurangi kematian anak ayam pada minggu pertama pemeliharaan.

Terlepas dari adanya wabah penyakit maka umur 1 sampai 7 hari bagi ayam broiler merupakan suatu saat yang sangat rawan terhadap kematian. Bukan hanya karena kondisi bawaan anak ayam yang relatif lemah begitu keluar daricengkeraman kulit telurnya tetapi kondisi ini juga diperparah lagi dengan perlakuan selanjutnya baik pada saat di hatchery, gudang, perjalanan, agen lainnya yang tidak sedikit mengurus waktu dan energi anak ayam yang lebih banyak tidak lagi tepat disebut DOC pada saat diterima peternak dikandangnya. Keadaan makin parah apabila perlakuan dari peternak dan lingkungan barunya yang tidak mendukung. Hal ini tidak mengherankan apabila kematian pada minggu pertama biasanya selalu lebih besar dari pada minggu-minggu berikutnya. Tentu saja terlepas dari adanya serangan penyakit dan bencana yang lainnya.

Air Gula dan Kematian
Pada saat datng ke lokasi peternakan kondisi DOC sedemikian stres-nya (terutama untuk DOC yang bukan grade I) sehingga perlu perlakuan khusus untuk menyambut kehadirannya. Suhu brooder house yang dihangatkan, pemberian air vitamin, antibiotika dan gula pasir sangat diperlukan untuk mengembalikan bahkan meningkatkan kondisi tubuhnya.

Bagi peternak yang sudah berpengalaman tentu perlakuan istimewa ini bukanlah hal yang san aneh, sudah tentu biasa. Kecuali pemberian gula dalam campuran vitamin dan antibiotik banyak yang melupakan atau mengabaikannya. Padahal peran energi yang dikandung dalam pasir putih itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak ayam.
Dari pengamatan terhadap peternakan ayam potong di sebuah farm di daerah Bekasi – Jawa Barat yang DOC-nya didatangkan dari sebuah Breeding Farm di Bekasi-juga Jawa Barat yang dapat ditempuh dengan jalan dart seitar 6 jam perjalanan ternyata penambahan 3 kg gula pasir dalam larutan vitamin dan antibiotika dalam250 liter air yang cukup untuk 10.000 ekor sangat besar pengaruhnya dalam mengurangi kematian pada minggu pertama. (Tabel)

Tabel 1 : Pengaruh pemberian gula pasir terhadap kematian anak ayam pada minggu pertama
Perlakuan Kematian (ekor) Keterangan
1. Diberi gula pasir 57 Populasi masing-masing 10.000 ekor dengan DOC
2. Tanpa diberi gula pasir 101 Grade I pemberian vitamin dan antibiotika sesuai dengan dosis yang dianjurkan

Dari tabel dapat dilihat kematian anak ayam yang tanpa diberi gula pasir dalam campuran antibiotika dan vitaminnya hampir 2 kali lipat lebih banyak. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan peternak.

Kerugian yang diderita peternak bukan hanya karena uang pembelian DOC yang amblas tetapi biaya pembelian pakan yang sangat mahal juga lenyap mengikuti kematian anak ayam demikian juga biaya-biaya lainnya yang tidak dikeluarkan. Padahal kematian yang fantastis ini dapat dicegah dengan cara yang sederhana dan mudah serta murah. Cuma dengan pemberian gula pasir yang sangat sedikit, 3 kg untuk 10.000 ekor!

Yang lebih penting dari berkurangnya kematian anak ayam pada minggu pertama adalah semangat beternak dari peternak dalam menggeluti usaha ternaknya. Itulah yang lebih mahal dan tidak dapat dibeli karena tidak ada yang menjual!

Oleh: Dinoto
(Kepala Seksi Pengembangan Ternak, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat)

Sumber artikel:
website: http://segudang-cerita-tua.blogspot.com

About these ads