Perlunya Kajian Ilmiah Virus AI

Awal tahun 2007 ini permasalahan flu burung khususnya di wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat mengalami peningkatan kasus, pasien yang diduga terserang flu burung semakin bertambah (SINDO,11/01/2007). Secara alamiah peningkatan kasus ini diprediksi sebagai akibat dari pergeseran musim, dari musim panas (kemarau) menjadi musim dingin (penghujan). Hal ini terkait dengan kemampuan bertahan hidup virus AI/Avian Influenza lebih tinggi pada kondisi dingin ketimbang panas. Pada kondisi suhu rendah, virus ini mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Namun tampaknya hal ini belum dapat menjelaskan atas fenomena yang ada. Bahkan prediksi (teori) tersebut bertolak belakang dengan kejadian yang ada. Yang terjadi saat ini justru wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat sedang mengalami gangguan ekstrem musim hujan. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) saat ini di tiga wilayah tersebut terjadi peningkatan suhu sampai 36 derajat celsius. Seharusnya suhu harian Januari hanya antara 31 hingga 32 derajat celsius.
Dengan demikian, perlu adanya sebuah kajian bersama dari stacholder yang berkompeten (ahli) seperti ahli meteorologi dan geofisika, virolog dari Dokter hewan dan Dokter umum maupun ahli yang lain terkait dengan permasalahan tersebut. Sehingga fokus kajian pemerintah tidak hanya pada penanggulangan terhadap pasien (manusia), namun juga pada kajian ilmiah atau kajian akademik (sains) terhadap virus AI tersebut. Bisa jadi, virus yang kita duga selama ini sebagai penyebab flu burung tersebut, ternyata virus lain yang memang mampu menimbulkan gejala-gejala seperti halnya pada kasus flu burung. Hal ini cukup beralasan mengingat saat ini di Indonesia telah muncul beberapa penyakit baru yang sebelumnya belum pernah ada.
Hal ini bukanlah untuk mencari kambing hitam masalah, namun lebih dari itu, mengingat permasalahan ini bukan hanya mampu membuat kecemasan dan kekhwatiran masyarakat awam, juga stacholder perunggasan (baca:peternakan). Padahal peternakan merupakan sektor riil yang mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 3,15 juta orang dengan investasi kurang lebih Rp.4,5 triliun pada tahun 2006. Bahkan sejak tahun 2003 sub sektor ini telah mampu bangkit dari terpaan krisis tahun 1998-1999. level produksi seluruh komoditas peternakan sudah melampaui level tertinggi periode sebelum krisis..
Selain peranannya pada sektor ekonomi, sektor peternakan juga merupakan sektor yang mampu menyediakan kebutuhan protein hewani, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Produk-produk peternakan seperti misalnya Telur, susu dan daging mempunyai kandungan nutrisi sebagai sumber protein dengan komposisi asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, terutama perkembangan otak manusia yang keberadaannya sangat dibutuhkan!. Kecuali jika negara ini ingin terjadi loss generation!

Sumber: Harian Seputar Indonesia, edisi Jumat, 19 Januari 2007

 

Di tahun ini gmn perkembangannya ya? apakah sudah tuntas?

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s